Tuesday, 25 March 2014

Metodologi Penelitian (Merumuskan Hipotesis)


BAB I
PENDAHULUAN
A.   LATAR BELAKANG
Penelitian merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan. Dengan dilakukan penelitian maka dihasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dengan mempunyai rasa keingintahuan tentang sesuatu, mendorong manusia untuk meneliti dan menghasilkan kebenaran. Untuk melakukan penelitian maka harus dilewati berbagai tahapan terlebih dahulu, ini sesuai dengan pengertian penelitian ilmiah itu sendiri yakni menjawab masalah berdasarkan metode yang sistematis. Salah satu hal penting yang dilakukan terutama dalam penelitian kuantitatif adalah merumuskan hipotesis.
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya: Pertama, Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik. Kedua, Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau difalsifikasi. Ketiga, hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Namun tidak semua peneliti mampu menyusun hipotesis dengan baik terutama peneliti pemula. Masih banyak terdapat kesalahan dalam menyusun hipotesis. Untuk menyusun hipotesis yang baik setidaknya peneliti harus mengacu pada kriteria perumusan hipotesis, bagaimana bentuk/ pola hubungan dalam penelitiannya, bagaimana pola berpikir dalam menyusun hipotesis dan jenis- jenis hipotesis. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka makalah ini akan membahas mengenai hakikat hipotesis hingga pola hubungan variabel yang berkaitan dengan penarikan hipotesis.

B.   RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana Cara Merumuskan Hipotesis Penelitian?
2.    Bagaimana Cara Merumuskan Tujuan Penelitian?
3.    Bagaimana Cara Merumuskan Kegunaan Penelitian?

C.   TUJUAN
1.    Untuk Mengetahui Bagaimana Cara Merumuskan Hipotesis
2.    Untuk Mengetahui Bagaimana Cara Merumuskan Tujuan Penelitian
3.    Untuk Mengetahui Bagaimana Cara Merumuskan Manfaat Penelitian

D.    
BAB II
PEMBAHASAN
A.   MERUMUSKAN HIPOTESIS
1.      Pengertian Hipotesis
Kata hipotesis berasal dari bahasa Yunani yaitu hypo yang artinya “di bawah” dan thesis yang artinya “pendirian, pendapat yang ditegakkan”. Menurut Sekaran (2005), mendefinisikan hipotesis sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis di antara dua atau lebih variabel yang diungkap dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji.  Hipotesis menurut Toto Syatori Nasehuddien dalam bukunya yang berjudul Metodologi Penelitian: Sebuah Pengantar, adalah pernyataan dugaan (conjectural) tentang hubungan antara dua variabeel atau lebih. Hipotesis selalu mengambil bentuk kalimat pernyataan (declarative) dan menghubungkan variabel yang satu dan variable yang lain. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang telah dirumuskan.[1]
Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan/ menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori.[2]
Contoh:
Apabila terlihat awan hitam dan langit menjadi pekat, maka seseorang dapat saja menyimpulkan (menduga-duga) berdasarkan pengalamannya bahwa (karena langit mendung, maka…) sebentar lagi hujan akan turun. Apabila ternyata beberapa saat kemudia hujan benar turun, maka dugaan terbukti benar. Secara ilmiah, dugaan ini disebut hipotesis. Namun apabila ternyata tidak turun hujan, maka hipotesisnya dinyatakan keliru.
Ketika berfikir untuk sehari-hari, orang sering menyebut hipotesis sebagai sebuah anggapan, perkiraan, dugaan, dan sebagainya. Hipotesis juga berarti sebuah pernyataan atau proposisi yang mengatakan bahwa diantara sejumlah fakta ada hubungan tertentu Proposisi inilah yang akan membentuk proses terbentuknya sebuah hipotesis di dalam penelitian, salah satu diantaranya yaitu Penelitian sosial.[3]
Proses pembentukan hipotesis merupakan sebuah proses penalaran, yang melalui tahap-tahap tertentu. Hal demikian juga terjadi dalam pembuatan hipotesis ilmiah, yang dilakukan dengan sadar, teliti, dan terarah. Sehingga dapat dikatakan bahwa sebuah Hipotesis merupakan satu tipe proposisi yang langsung dapat diuji.[4]
2.      Kegunaan Hipotesis
Kegunaan hipotesis secara garis besar adalah sebagai berikut.[5]
a.       Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian serta kerjapenelitian.
b.      Mensiagakan peneliti pada kondisi fakta dan hubungan antarfakta.
c.       Sebagai alat sederhana dalam memfokuskan fakta terpisah-pisah tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
d.      Sebagai panduan dalam pengujian dan penyesuaian dengan fakta dan antarfakta.
Tinggi rendahnya kegunaan hipotesis sangat tergantung dari:
a.       Pengamatan si peneliti yang tajam
b.      Imajinasi dan pemikiran kreatif si peneliti
c.       Kerangka analisis yang digunakan si peneliti
d.      Metode dan desain penelitian yang dipilih si peneliti

3.      Ciri-ciri Hipotesis yang Baik
Satu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar. Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian.[6] Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata.
Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni:
  1. Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian.
  2. Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional. Aturan untuk, menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen.
  3. Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabel atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna.
  4. Hipotesis harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis.
  5. Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu, instrumen harus ada (atau dapat dikembangkan) yang akan menggambarkan ukuran yang valid dari variabel yang diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode observasi, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.
  6. Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan yang sebenarnya. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan di antara variabel dalam istilah arah (seperti, positif dan negatif). Satu hipotesis menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari waktu, ruang, atau unit analisis yang jelas. Jadi, hipotesis akan menekankan hubungan yang diharapkan di antara variabel, sebagaimana kondisi di bawah hubungan yang diharapkan untuk dijelaskan. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan.
  7. Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu hipotesis yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara eksplisit
4.      Jenis-jenis Hipotesis[7]
a) Hipotesis tentang perbedaan vs hubungan
Hipotesis jenis ini merupakan hipotesis tentang hubungan analitis yakni secara analisis menyatakan hubungan atau perbedaan satu sifat dengan sifat lainnya. Hipotesis tentang hubungan adalah pernyataan rekaan yang menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih. Hipotesis ini mendasari teknik penelitian korelasional atau regresi. Hipotesis tentang perbedaan adalah pernyataan yang menyatakan adanya ketidaksamaan antarvariabel tertentu karena adanya pengaruh yang berbeda-beda. Hipotesis ini mendasari teknik penelitian komparatif.
b) Hipotesis kerja vs hipotesis nol
Hipotesis kerja adalah pernyataan rekaan yang hasil pengujiannya diterima, sedangkan hipotesis nol adalah penyataan rekaan yang hasil pengujiannya ditolak. Dalam rangka pengolahan data hipotesis ini disebut hipotesis stastistik. Jadi dalam sebuah penelitian dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif, terdapat dua macam hipotesis, yaitu :
1)      Hipotesis penelitian yang diungkapkan dalam bentuk kalimat pernyataan. Misalnya, terdapat hubungan atau perbedaan anatara variabel x dengan variabel y. hipotesis tersebut dilambangkan dengan ‘Ha” atau “H1” apabila terdapat hubungan dan “H0” apabila tidak terdapat hubungan atau perbedaan.
2)      Hipotesis statistik adalah hipotesis yang dilambangkan dengan rumus-rumus statistik. Misalnya, terdapat hubungan antara  variabel x dengan variabel y, untuk “H0” dilambangkan dengan Py = 0 dan “Ha” / “H1” dilambangkan dengan Py > 0. Sedangkan apabila hipotesis penelitiannya “terdapat perbedaan variabel x dengan variabel y, maka hipotesis statistiknya untuk “H0” dilambangkan dengan M = 0 dan untuk “Ha” / “H1” dilambangkan dengan M ≠ 0.
c)      Hipotesis ideal vs common sense (akal sehat)
Hipotesis common sense biasanya menyatakan hubungan kegiatan terapan. Misalnya, hubungan antara tenga kerja dengan luas garapan, hubungan antara tenaga kerja dengan jumlah siswa ddalam satu kelas. Sebaliknya, hipotesis yang menyatakan hubungan yang kompleks dinamakan hipotesis ideal. Hipotesis ini bertujuan untuk menguji adanya hubungan yang logis antara keseragaman-keseragaman pengalaman empiris. Misalnya, kita mempunyai keseragaman empiris dan hubungan antar sekolah; sekolah yang berlokasi di tengah-tengah pemukiman penduduk, sekolah yang berlokasi di tengah-tengah pusat perbelanjaan, sekolah yang berlokasi di tengah-tengah lingkungan industri, sekolah yang berlokasi di tengah-tengah perkantoran dan sebagainya. Contoh, hubungan anatar prestasi belajar siswa dengan sekolah yang berlokasi di pusat perbelanjaan, hubungan motivasi belajart siswa dengan sekolah yang di tengah-tengah pemukiman penduduk.
5.      Menguji Hipotesis
Hipotesis berfungsi untuk memberi suatu penyataan terkaan tentang hubungan tentative antara fenomena-fenomena dalam penelitian. Kemudian hubungan tersebut diuji validitas dan reliabilitasnya menurut teknik-teknik yang sesuai untuk keperluan pengujian. Untuk menguji hipotesis diperlukan :
a)      Data atau fakta dan kerangka pengujian hipotesis harus ditetapkan dahulu sebelum si peneliti mengumpulkan data
b)      Pengetahuan yang luas tentang kerangka teori, penguasaan penggunaan teori secara logis, statistik dan teknik-teknik pengujian. Cara pengujian hipotesis tergantung pada metode desain penelitian yang digunakan.
B.   MERUMUSKAN TUJUAN
Apa yang ingin dihasilkan dari suatu penelitian dirumuskan dalam tujuan penelitian. Dengan demikian rumusan tujuan penelitian tidak berisi tentang tujuan yang bersifat subjektif peneliti, akan tetapi berisi sesuai dengan rumusan masalah. Rumusan tujuan yang subjektif itu misalnya: tujuan penelitian ini adalah sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar magister. Tujuan penelitian tersebut merupakan tujuan yang bersifat subjektif sebab sama sekali tidak ada hubungannya dengan rumusan masalah penelitian. Oeh sebabitu, tujuan seperti itu tidak perlu dirumuskan dalam poin ini.
Tujuan penelitian dirumuskan sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Manakala masalah yang kita teliti ada tiga masalah, maka tujuannya pun harus ada tiga. Memang bisa saja tujuan diringkas menjadi dua atau bahkan satu tujuan saja dengan menyatukan rumusan masalah, tetapi hal ini dinilai tidak baik, sebab dapat mencerminkan berfikir menjadi tidak sistematis dan logis. Oleh karena itu, setelah kita merumuskan satu rumusan masalah sebaiknya segeralah kita merumuskan tujuan penelitiannya. Perhatikan contoh berikut :
Judul Penelitian
Efektifitas penggunaan metode pembelajaran diskusi kelompok kecil dibandingkan dengan metode ceramah dalam perolehan hasil belajar pada pelajaran IPS di SD.
Rumusan Masalah
Apakah penggunaan metoda diskusi kelompk kecil lebih efektif dalam perolehan hasil belajar dibandingkan dengan penggunaan metode ceramah pada pelajaran IPS di SD?
Pertanyaan Penelitian:
1.      Bagaimana gambaran perolehan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode diskusi kelompok kecil dalam pelajaran IPS di SD?
2.      Bagaimana gambaran perolehan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode ceramah dalam pelajaran IPS di SD?
3.      Apakah penggunaan metoda diskusi kelompk kecil lebih efektif dalam perolehan hasil belajar dibandingkan dengan penggunaan metode ceramah pada pelajaran IPS di SD?
Tujuan Penelitian:
Sesuai dengan rumusan pertanyaan penelitian diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.      Ingin memperoleh data empiris tentang gambaran perolehan hasil belajar siswa dengan menggunakan metoda diskusi kelompok kecil dalam pelajaran IPS di SD.
2.      Ingin memperoleh data empiris tentang gambaran perolehan hasil belajar siswa dengan menggunakan metoda ceramah dalam pelajaran IS di SD.
3.      Ingin menemukan efektifitas penggunaan metoda diskusi kelompok kecil dibandingkan dengan metode ceramah dilihat dari perolehan hasil belajar pada pelajaran IPS di SD.
Contoh dua :
Judul Penelitian
Hubungan antara keikutsertaan guru SD dalam kegiatan in-service trainingdengan kinerja mereka pada pengelolaan pembelajaran di dalam kelas
Rumusan Masalah
Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara keikutsertaan guru SD pada kegiatan in-service training dengan kinerja mereka pada pengelolaan pembelajaran di dalam kelas?
Pertanyaan Penelitian
1.      Bagaimanakah keikutsertaan guru-guru SD pada kegiatan in-service training?
2.      Bagaimanakah kinerja guru-guru SD pada aspek pengelolaan pembelajaran di dalam kelas?
3.      Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara keikutsertaan guru SD pada kegiatan in-service training dengan kinerja mereka pada pengelolaan pembelajaran di dalam kelas?
Tujuan Penelitian
1.      Ingin memperoleh data empiris tentangkeikutsertaan guru-guru SD pada kegiatan in-service training.
2.      Ingin memperoleh data empiris tentang kinerja guru-guru SD pada aspek pengelolaan pembelajaran di dalam kelas.
3.      Ingin menemukan tingkat hubungan antara keikutsertaan guru SD pada kegiatan in-service training dengan kinerja mereka pada pengelolaan pembelajaran di dalam kelas.

C.   MERUMUSKAN KEGUNAAN PENELITIAN
Salah satu kriteria memilih masalah penelitian adalah masalah itu harus bermanfaat baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan maupun untuk kepentingan praktis di lapangan. Berbagai manfaat yang perlu diperkirakan oleh peneliti perlu dicantumkan dalam bagian ini. Secara umum ada dua jenis manfaat penelitian ini. Pertama manfaat teoritis dan kedua manfaat praktis.
Manfaat teoritis adalah kontribusi hasil penelitian untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan sesuai dengan bidang akademik yng diteliti; sedangkan manfaat praktis adalah kontribusi hasil penelitian yang dapat diberikan secara langsung padapraktisi pendidikan, misalnya manfaat untuk guru, untuk siswa, untuk para administrator sekolah yakni untuk kepala dan pengawas sekolah dan untuk komite sekolah.[8]
Apakah perlu dirumuskan manfaat penelitian untuk peneliti sendiri? Apabila ada yang subtansial dan dirasa sangat penting serta ada hubungannya dengan masalah penelitian, maka bisa saja dirumuskan manfaat penelitian untuk pneliti. Akan tetapi apabila tidak terdapat hal-hal yang substansial sebaiknya manfaat penelitin untuk peneliti tidak perlu di tulis. Misalnya :
Penelitian ini bermanfaat untuk penulis khususnya dalam rangka memberikan pengalaman penulisan karya ilmiah.
Manfaat penelitian semacam ini tidak substansial, sebab selain tidak ada hubungannya dengan rumusan masalah yang diteliti juga sifatnya sangat subjektif. Oleh sebab itu, manfaat semacam itu tidak perlu dicantumkan.




BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Didalam menyusun suatu laporan karya tulis ilmiah terutama penelitian di dalamnya tidak akan terlepas dari yang namanya merumuskan hipotesis, tujuan, dan kegunnaan penelitian. Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang kan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan/ menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori. Hipotesis juga berarti sebuah pernyataan atau proposisi yang mengatakan bahwa diantara sejumlah fakta ada hubungan tertentu Proposisi inilah yang akan membentuk proses terbentuknya sebuah hipotesis di dalam penelitian.  
Tujuan penelitian merupakan satuan yang selaras dari perumusan masalah dan manfaat penelitian. Secara umum, tujuan penelitian adalah pernyataan jawaban atas pertanyaan mengapa anda ingin melakukan penelitian tersebut. Biasanya dalam penulisan tujuan adalah sesuai dengan perumusan masalah. Dan  inti daripada kegunaan penelitian menguraikan seberapa jauh kebergunaan dan kontribusi hasill penelitian anda.
Kegunaan penelitian/penulisan dapat diuraikan secara terpisah. Maksudnya, kegunaan penelitian tersebut dapat diperinci lagi kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap penelitian anda. Kegunaan penelitian dapat dibedakan menjadi kepentingan praktis, kepentingan bidang keilmuan, atau kepentingan bidang profesi peneliti, instansi/organisasi, atau kelompok tertentu.



DAFTAR PUSTAKA
Leedy, Paul.D and Jeanne.E. Ormrod. 2005. Practical Research: Planning and Design Research Edisi 8, Ohio : Pearson Merrill Prentice Hall.
Noor, Juliansyah. 2012.  Metodologi Penelitian. Jakarta: Kencana.
Sanjaya, Wina. 2013. Penelitian pendidikan. Jakarta: Kencana.
Syatori Nasehuddien, Toto. 2011. Metodologi Penelitian: Sebuah Pengantar (Edisi Revisi). Cirebon: Nurjarti Press.
Uma Sakaran. 1992. Research Methods for Business: A Skill Building Approach, second edition, New York: John Wiley& Sons, Inc.



[1] Toto Syatori Nasehuddien. Metodologi Penelitian: Sebuah Pengantar (Edisi Revisi). Cirebon: Nurjarti Press. Hal. 60
[2] Uma Sakaran. Research Methods for Business: A Skill Building Approach, second edition, New York: John Wiley& Sons, Inc, 1992, Hal. 7-19
[3] Paul.D. Leedy and Jeanne.E. Ormrod. Practical Research: Planning and Design Research Edisi 8, Ohio : Pearson Merrill Prentice Hall, 2005, Hal. 156-209
[4] Ibid
[5] Toto Syatori Nasehuddien. Op. cit., hal.61
[6] Uma Sakaran. Op.cit.
[7] Toto Syatori Nasehuddien. Op. cit., hal. 61-63
[8] Wina Sanjaya. 2013. Penelitian pendidikan. Jakarta: Kencana. Hal 293

No comments:

Post a Comment