BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Metodologi penelitian merupakan mata kuliah yang
menunjang dalam pembuatan karya ilmiah. Melihat hasil karya ilmiah yang
hasilnya masih belum maksimal, perlu adanya suatu penelitian. Dalam membuat
proposal penelitian membutuhkan langkah-langkah yang harus dilakukan peneliti,
sehingga perlu untuk mengetahui masalah yang akan diteliti terlebih dahulu.
Apabila masalah itu telah ada, kemudian dapat diidentifikasi, dibatasi, dan dirumuskan
sehingga masalahnya dapat ditemukan suatu solusi yang baik.
Dalam merumuskan masalah perlu mengetahui masalah
yang telah dibatasi dari beberapa identifikasi suatu masalah yang sudah
diteliti sebelumnya, dari masalah itu maka kita akan menemukan solusi dan mudah
dalam menyelesaikan rumusan masalah.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
membuat latar belakang masalah dalam metodologi penelitian?
2. Bagaimanakah
mengidentifikasi masalah?
3. Bagaimanakah
cara menentukan pembatasan masalah?
4. Bagaimanakah
cara dalam merumuskan masalah?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui bagaimana membuat latar belakang masalah.
2. Untuk
mengetahui bagaimana mengidentifikasi suatu masalah.
3. Untuk
mengetahui bagaimana cara menentukan pembatasan masalah.
4. Untuk
mengetahui cara merumuskan suatu masalah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Latar belakang masalah adalah alasan-alasan yang melatar
belakangi penelitian suatu masalah[1].Yang
diungkapkan dalam latar belakang masalah adalah hal yang berkaitan dengan
masalah penelitian yang akan dilakukan. Latar belakang penelitian memiliki
fungsi yaitu memberikan alasan mengapa penelitian tersebut dilakukan. Alasan
atau latar belakang penelitian yang dituliskan, yaitu mengapa topik itu perlu
diteliti, apa arti pentignya bagi perkembangan ilmu dan bagi kehidupan praktek
sehari-hari. Masalah penelitian merupakan hasil pemikiran peneliti ketika
menentukan masalah penelitian yang dilanjutkan dengan studi pendahuluan.
Didalam mengadakan studi
pendahuluan mungkin ditemukan bahwa orang lain sudah berhasil memecahkan
masalah yang peneliti ajukan sehingga tidak ada gunanya untuk menyelidiki.
Mungkin juga peneliti mengetahui hal-hal yang relevan dengan masalahnya
sehingga memperkuat keinginannya untuk meneliti. Apabila ada orang lain yang
menyelidiki masalah yang hampir sama atau belum terjawab persoalannya, calon
peneliti dapat mengetahui metode apa yang digunakan, hasil-hasil apa yang telah
dicapai, bagian mana dari penelitian itu yang belum terselesaikan, fakto-faktor
apa yang mendukung, dan hambatan apa yang telah diambil untuk mengatasi
hambatan penelitiannya.[2]
Selanjutnya oleh Dr. Winarno
dikatakan bahwa setelah studi Eksploratoris ini penelitian menjadi jelas
terhadap masalah yang dihadapi, dari aspek historis, hubungannya dengan ilmu
yang lebih luas, situasi dewasa, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang
dan lain-lainnya. Dengan adanya studi pendahuluan, peneliti akan mengetahui[3]:
1.
Masalah pokok yang akan diteliti.
2.
Dimana atau kepada siapa informasi dapat diperoleh.
3.
Bagaimana cara memperoleh data atau informasi.
4.
Cara yang tepat untuk menganalisis data.
5.
Bagaimana harus mengambil kesimpulan serta memanfaatkan
hasil.
Untuk mengadakan studi pendahuluan
ini dapat dilakukan pada tiga objek. Yang dimaksud dengan objek disini adalah
apa yang harus dihubungi, dilihat, diteliti, atau dikunjungi yang kira-kira nya
akan memberikan informasi tentang data yang akan dikumpulkan. Ketiga objek
tersebut ada yang berupa tulisan-tulisan dalam kertas (paper), manusia
(person), atau tempat (place). Oelh karena itu dinyatakan dalam kata bahasa
inggris, untuk lebih mudahnya mengingat, disingkat dengan tiga P[4],
yaitu:
1. Paper, dokumen, buku-buku, majalah
atau bahan tertulis lainnya, baik berupa teori, laporan penelitian atau
penemuan sebelumnya (findings). Studi ini juga disebut keperpustakaan atau
literatur studi.
2. Person: bertamu, bertanya, dan
berkonsultasi dengan para ahli atau manusia sumber.
3. Place: tempat, lokasi, atau
benda-benda yang terdapat di tempat penelitian
Latar belakang
memuat tiga hal, yaitu deksripsi fenomena yang akan dikaji, urgensi serta
kelayakan meneliti fenomena tersebut. Pada prinsipnya, ketiga hal tersebut
harus ada dalam latar belakang. Memang, biasanya ketiganya dijelaskan secara
urut, mulai dari deskripsi fenomena, urgensi, lalu kelayakan. Namun, sebenarnya
tidak harus dengan urutan tersebut, yang penting adalah alur penulisan yang
sistematis dan nyaman dibaca.[5]
1.
Fenomena yang
akan diteliti
Sebuah
penelitian dilakukan dalam rangka menjawab keingintahuan peneliti untuk
mengungkapkan suatu gejala atau fenomena yang belum terjelaskan, atau suatu
fenomena yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Latar belakang menjelaskan
fenomena tersebut. Dengan kata lain, peneliti harus mampu menjelaskan fenomena
yang akan diteliti serta konteks yang melingkupinya, misalnya konteks sosial,
budaya, ekonomi atau sejarah. Tentu saja, tidak semua konteks perlu dipaparkan,
hanya konteks-konteks yang relevan dengan masalah penelitian saja yang
dijelaskan.
2.
Urgensi
meneliti fenomena tersebut
Penelitian hanya
bisa dilakukan terhadap fenomena yang penting, dalam arti bagi masyarakat luas,
tidak hanya penting secara personal bagi peneliti. Dalam bagian ini, peneliti
harus mampu mengungkapkan mengapa fenomena tersebut penting untuk dikaji.
3.
Kelayakan
meneliti fenomena tersebut
Setelah
mengungkap urgensi penelitian, peneliti harus mampu menjelaskan bahwa untuk
mengungkap fenomena yang akan dikaji memang membutuhkan langkah-langkah yang
runtut, sistematis dan logis. Singkatnya, untuk menjelaskan fenomena tersebut
secara meyakinkan harus dilakukan penelitian.
Kelemahan umum
yang harus dihindari dalam penulisan latar belakang ini adalah penjelasan yang
terlalu melebar dan tidak relevan dan penjelasan yang tidak sistematis atau
seringkali berputar-putar dan banyak pengulangan yang tidak perlu.[6]
B. IDENTIFIKASI
MASALAH
Identifikasi masalah adalah upaya peneliti untuk
mengeksplorasi berbagai kemungkinan pertanyaan yang dapat diajukan dan relevan
berkaitan dengan variabel penelitian yang dipilih. Jumlah butir pertanyaan tidak
dibatasi, sepanjang memliki relevansi dengan variabel penelitian tersebut.[7]
Dalam penelitian kita perlu mengidentifikasi masalah
sesuai dengan topik penelitian untuk meyakinkan bahwa memang di lapangan ada
permasalahan sesuai dengan topik penelitian.
1.
Sumber-sumber untuk Memperoleh
masalah
Kendala yang dihadapi untuk
mendapat masalah adalah kesanggupan peneliti menggali dan mengidentifikasi
masalah serta mengetahui sumber –sumber dari masalah tersebut. Moh. Nazir
(dalam Toto Syatori Nasehudin, 2011:58) menyebutkan bahwa masalah penelitian
dapat diperoleh antara lain dengan melakukan:
a.
Pengamatan terhadap kegiatan manusia
Mengobservasi berbagai fenomena sosial
merupakan sumber penelitian yang amat berharga, karena jika dikaji secara
kritis, peneliti dapat menemukan berbagai gejala sosial yang dapat dijadikan
masalah penelitian.[8]
b.
Bacaan-bacaan
Membaca dan memanfaatkan buku referensi akan
mempermudah peneliti untuk mendapat masalah. Karena, bahan referensi semacam
itulah banyak mengandung informasi baik secara teoritis maupun hanya sekedar
data dan fakta yang tersebar dilapangan.
c.
Analisis bidang pengetahuan
d.
Melakukan diskusi dengan ahli
Dengan berdialog bersama para ahli peneliti
dapat meminta pendapat tentang sesuatu yang menjadi keahliannya dan informasi
tersebut dapat diangkat menjadi masalah penelitian.[9]
e.
Ulangan dan perluasan penelitian
Masalah juga diperoleh dengan mengulang
percobaan-percobaan yang pernah dilakukan, dimana percobaan yang telah
dikerjakan tersebut memuaskan, peluasan analisa maupun metode dan teknik dengan
eguiqment yang lebih modern akan membuat masalah dapat di pecahkan secara lebih
memuaskan.
f.
Cabang studi yang sedang dikembangkan
Kadang kala ditemukan, bukan dari bidang
studi itu sendiri, tetapi dari cabang yang timbul kemudian, yang mula-mula
dipikirkan tidak penting sifatnya.
g.
Pengetahuan dan catatan pribadi praktek dan keinginan
masyarakat.
h.
Bidang spesialisasi pelajaran yang sedang diikuti
Bidang spesialiasi seorang dapat merupakan
sumber masalah. Dalam membuat masalah perlu dijaga supaya masalah dapat digali
jangan menjurus kepada over spesialisasi, hal tersebut akan menghilangkan
unitas yang fundamental.
i.
Pengamatan terhadap alam sekeliling
Peneliti-peneliti ilmu natura seringkali
memperoleh masalah dari alam sekelilingnya.
j.
Kegiatan-kegiatan ilmiah
Mengikuti berbagai kegiatan ilmiah seperti
seminar, simposium diskusi panel, dan lain sebagainya dapat memberikan ide
untuk menemukan masalah. Kegiatan ilmiah banyak diikuti olehorang yang sering
dan ahli dalam menggali dan meneliti suatu masalah, sehingga dari pembicaraan
mereka, peneliti dapat menggali masalah yang dapat dikaji secara ilmiah.[10]
2.
Masalah yang dipilih harus
fisibel, yakni masalah tersebut dapat dipecahkan. Artinya bahwa:
a.
Data dan metode untuk memecahkan masalah tersebut harus
tersedia
Penelitian adalah proses pemecahan masalah
secara empiris, oleh karenanya kemungkinan terkumpulnya data merupakan kriteria
yang tidak boleh dilupakan. Ketika sulit untuk memperoleh data penelitian akan
dapat mengurangi makna hasil penelitian karena akurasi penelitian bergantung
pada kelengkapan data yang dikumpulkan.
b.
Biaya dan waktu untuk memecahkan masalah, relatif harus
dalam batas-batas kemampuan,
Ketersediaan waktu dan biaya akan
mempengaruhi hasil penelitian, maka dari itu penelitian harus direncanakan
sesuai dengan limit waktu dan biaya yang tersedia.
c.
Biaya dan hasil harus seimbang,
d.
Administrasi dan sponsor harus kuat,
Masalah yang dimiliki harus mempunyai sponsor
serta administrasi yang kuat. Lebih-lebih peneliti mahasiswa. Masalah ini harus
diperkuat dengan adviser, pembimbing,
ataupun tenaga ahli yang sesuai dengan bidangnya.
e.
Tidak bertentangan dengan hukum dan adat.
Masalah yang dipilih harus tidak bertentangan
dengan adat istiadat, hukum yang berlaku maupun kebiasaan. Pilihlah masalah
yang tidak menimbulkan kebencian orang lain. Pertentangan fisik maupun itikad
untuk menjaga kesinambungan profesionalisme dalam meneliti.
3.
Masalah yang dipilih harus sesuai dengan klasifikasi
peneliti, paling tidak masalah yang diteliti sekurang-kurangnya:
a.
Menarik bagi
peneliti
Masalah yang diteliti harus menarik
keingintahuan sipeneliti dan memberi harapan kepada peneliti untuk menemukan
jawaban atau menemukan masalaha yang lebih penting dan lebih menarik.
b.
Cocok dengan kualifikasi ilmiah peneliti
Sukar mudahnya masalah yang ingin dipecahkan
harus sesuai dengan derajat/kemampuan ilmiah peneliti itu sendiri.
C.
Pembatasan Masalah
Ketika peneliti telah mengidentifikasi dan memilih
masalah yang akan diteliti, langkah berikutnya adalah membatasi permasalahan yang
akan diteliti. Pembatasalan masalah dalam suatu penelitian sangat penting
dilakukan, karena peneliti memiliki-memiliki keterbatasan dalam melakukan
penelitian baik dalam hal kemampuan secara akademik, dalam arti penguasaan
terhadap teori-teori mengenai permasalahan yang akan diteliti atau keterbatasan
dalam hal waktu, tenaga dan pembiayaan. Pembatasan masalah tersebut disusun
dalam sebuah kalimat pernyataan.
Disamping itu, penelitian juga membutuhkan kedalaman dan
ketajaman analisis (sempit/ fokus dan mendalam), sehingga penelitian harus
dibatasi pada aspek-aspek pertanyaan penelitian yang memungkinkan. Misalnya
identifikasi masalah mengandung 5 pertanyaan, peneliti dapat menentukantiga
atau lebih pertanyaan yang dijadikan masalah penelitian.[11]
Kemudian, agar penelitian mengarah pada inti masalah yang
sesungguhnya maka peneliti perlu membatasi masalah dengan memperhatikan hal
yang paling bermanfaat jika diteliti.Supaya pilihan masalah didasari
dengan pertimbangan yang matang maka sebaiknya memilih topik yang sesuai dengan
bidang pekerjaan dan latar belakang pendidikan serta kompetensi yang dimiliki.
Faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah ruang
lingkup penelitian supaya tidak terlalu luas sehingga mudah dilakukan. Masalah
dapat dipecahkan sendiri, tersedia sumber teori atau peraturan yang
mendasarinya. Hal penting lain untuk dipertimbangkan adalah hasil
penelitian berpotensi untuk memperbaiki pelaksanaan pekerjaan, data-data dapat
diperoleh dari pelaksanaan tugas, penelitian dapat dilakukan secara mandiri
sesuai dengan waktu dan biaya yang tersedia.
D.
Perumusan Masalah
1.
Pentingnya merumuskan masalah
Moh. Nazir (dalam Toto Syatori Nasehudin,
2011:56) mengemukakan bahwa masalah timbul karena adanya tantangan, kesangsian
atau kebingungan kita terhadap suatu hal atau fenomena, adanya kemenduaan (ambiguity),
adanya halangan dan rintangan, adanya celah (gap) baik antarkegiatan
atau fenomena, baik yang telah ada ataupun yang akan ada. Sehingga dengan
penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah-masalah atau sedikitnya dapat
menutupi celah yang terjadi.
Penelitian
dapat memecahkan masalah karena penelitian akan mencari titik inti dari suatu
masalah dan dari penelitian tersebut akan dihasilkan alternatif-alternatif
jawaban atau solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Merumuskan masalah
yang akan diteliti bukanlah hal yang mudah, karena untuk menentukkan masalah
harus mengetahui apa masalah. Solusi atau pemecahan masalah akan bergantung
pada pengetahuan peneliti mengenai masalah dan pengetahuan peneliti mengenai
sifat-sifat dan hakikat masalah tersebut.
Perumusan
masalah adalah hal yang penting karena penelitian akan dapat dilakukan jika
telah diketahui masalahnya, sehingga dengan kata lain masalah menuntun
penelitian untuk melakukan penelitian. Tujuan dari pemilihan dan perumusan
masalah menurut Moh. Nazir (dalam Toto Syatori Nasehudin, 2011:57) adalah:
a.
Mencari sesuatu dalam rangka pemuasan akademik seseorang:
b.
Merumuskan perhatian dan keinginan seseorang akan hal-hal
yang baru;
c.
Meletakan dasar utuk memecahkan penemuan-penemuan
sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya;
d.
Memenuhi keinginan sosial; dan
e.
Menyediakan sesuatu yang bermanfaat.
2.
Kriteria atau Ciri dalam Memilih dan Merumuskan Masalah
Menurut Fred N. Kerlinger (dalam
Toto Syatori Nasehudin, 2011:57) ada beberapa kriteria dalam memilih dan
merumuskan masalah, diantaranya:
a.
Masalah yang dipilih harus dirumuskan dengan cara
tertentu yang menyiratkan adanya kemungkinan pengujian empiris suatu masalah
yang tidak memuat implikasi pengujuan hubungan atau hubungan-hubungan yang
dinyatakan.
b.
Masalah yang dipilih harus memiliki nilai penelitian;
1)
Mempunyai keaslian, masalah penelitian harus benar-benar
asli, hasil proses berfikir, bukan hasil mencontoh yang sudah ada. Keaslian
masalah ditunjukkan salah satunya ditampilkannya hasil kajian masalah yang
terdahulu yang relevan. Maksudnya, peneliti harus menunjukkan bahwa masalah
yang hampir sama pernah diteliti oleh orang lain dan dalam rangka apa masalah
itu diteliti dan untuk menunjukkan bahwa masalah yang dirumuskan itu berbeda
maka perlu dicantumkan hasil dan simpulan penelitian yang dilakukan oleh orang
lain. Jika peneliti ingin meneliti hal yang sama atau masalah yang sama dengan
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya namun peneliti ingin membuktikan
kebenaran simpulan dari hasil penelitian tersebut tidak termasuk dalam plagiat,
asalkan dicantumkan sumbernya dengan jelas serta prosedur penelitian yang
dilakukan dan ini hakikat penelitian verifikatif.
2)
Merupakan hal yang penting,
Masalah yang penting akan memiliki suatu
nilai guna agar penelitiannya memiliki nilai. Dengan masalah yang penting dan
memiliki nilai guna akan mendorong motivasi peneliti untuk melakukan
penelitian.
3)
Dapat diuji,
4)
Sesuai dengan minat dan Latar Belakang Akademik Peneliti.
Minat peneliti terhadap masalah yang dikaji dapat mempengaruhi keseriusan
penelitian yang dilakukannya. Latar belakang akademik peneliti akan
mempengaruhi pemahaman peneliti terhadap variabel-variabel penelitian dan
pemahaman mengenai pengkajian masalah.
5)
Mengungkapkan suatu hubungan antara dua atau lebih
variabel,
Masalah penelitian dirumuskan dalam kalimat
pertanyaan yang menggambarkan variabel yang akan diuji serta keterkaitannya.
6)
Jelas dan tidak ambigu dalam bentuk kalimat pertanyaan.
Rumusan masalah dinyatakan dalam bentuk
pertanyaan untuk lebih memberikan kejelasan dalam proses penelitian yang harus
dikerjakan oleh peneliti.
c.
Masalah yang dipilih harus fisibel, yakni masalah
tersebut dapat dipecahkan. Artinya bahwa:
1)
Data dan metode untuk memecahkan masalah tersebut harus
tersedia
Penelitian adalah proses pemecahan masalah
secara empiris, oleh karenanya kemungkinan terkumpulnya data merupakan kriteria
yang tidak boleh dilupakan. Ketika sulit untuk memperoleh data penelitian akan
dapat mengurangi makna hasil penelitian karena akurasi penelitian bergantung
pada kelengkapan data yang dikumpulkan.
2)
Biaya dan waktu untuk memecahkan masalah, relatif harus
dalam batas-batas kemampuan, Ketersediaan waktu dan biaya akan mempengaruhi
hasil penelitian, maka dari itu penelitian harus direncanakan sesuai dengan
limit waktu dan biaya yang tersedia.
3)
Biaya dan hasil harus seimbang,
4)
Administrasi dan sponsor harus kuat, dan
5)
Tidak bertentangan dengan hukum dan adat.
d.
Masalah yang dipilih harus sesuai dengan klasifikasi
peneliti, paling tidak masalah yang diteliti sekurang-kurangnya:
1.
Menarik bagi peneliti
Masalah yang diteliti harus menarik
keingintahuan sipeneliti dan memberi harapan kepada peneliti untuk menemukan
jawaban atau menemukan masalaha yang lebih penting dan lebih menarik.
2.
Cocok dengan kualifikasi ilmiah peneliti
Sukar mudahnya masalah yang ingin dipecahkan
harus sesuai dengan derajat/kemampuan ilmiah peneliti itu sendiri.[12]
3.
Teknik merumuskan masalah
Merumuskan masalah
merupakan langkah penting dalam suatu kerja penelitian, sebab dengan masalah
yang jelas, akan mengarahkan dan menuntun peneliti untuk bekerja. Oleh sebab
itu, baik tidaknya karya penelitian, dapat ditentukan oleh jelas dan tidaknya
masalah yang diteliti. Selanjutnya, bagaimana cara merumuskan masalah
penelitian? Berikut ini dijelaskan secara singkat teknik merumuskan masalah.
a.
Rumuskan masalah penelitian dalam kalimat pertanyaan
Merumuskan
masalah biasanya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Hal ini dimaksudkan untuk
lebih memberikan kejelasan dalam proses penelitian yang harus dikerjakan oleh
peneliti. Kesalahan yang sering terjadi dalam merumuskan masalah adalah
ketidakjelasan apa yang akan diteliti. Hal ini disebabkan peneliti terlalu
banyak menyatakan dan mendeskripsikan hal-hal yang berkaitan dengan tema
penelitian, sehingga masalah tidak menjadi fokus.
b.
Rumuskan masalah penelitian dalam kalimat yang sederhana
Masalah
penelitian hendaknya dirumuskan dalam kalimat tunggal yang sederhana, sehingga
musah ditangkap dan dipahami maksudnya. Kalau ada istilah asing yang sudah ada
padanannya dalam bahasa indonesia, lebih baik ditulis dalam bahasa indonesia,
kecuali istilah asing yang sudah menjadi kata serapan dalam bahasa indonesia.
c.
Munculkan variabel-variabel penelitian serta
keterkaitannya
Masalah
penelitian yang harus dirumuskan dalam kalimat pertanyaan harus menggambarkan
variabel-variabel yang akan diuji serta keterkaitan antarvariabel tersebut.
Misalnya, apakah ingin menguji hubungan, perbedaan, atau pengaruh dari variabel
yang satu terhadap variabel yang lain.
d.
Batasi masalah yang dirumuskan
Kesalahan
yang sering terjadi dalam merumuskan masalah adalah terlalu luas atau terlalu
sempitnya permasalahan yang diteliti. Persoalan ini harus benar-benar
diperhatikan, sebab dapat mempengaruhi hasil penelitian. Ada dua hal yang
berkaitan dengan analis dan pembatasan masalah. Pertama, pembatasan masalah yang berkaitan dengan ruang lingkup
penelitian atau variabel yang hendak diteliti. Kedua, pembatasan masalah yang berkaitan dengan lokasi penelitian
atau sasaran penelitian yang erat kaitannya dengan penentuan populasi
penelitian. Contohnya:
Bagaimana pengaruh penggunaan
media pembelajaran dalam proses belajar mengajar terhadap prestasi belajar
siswa kelas 2 SMP Negeri Cijenge?
Dari rumusan masalah diatas, kitadapat
menangkap, bahwa lokasi penelitian yang dirumuskan begitu jelas, yakni SMP
Negeri Cijenge, akan tetapi persoalan mengenai ruang lingkup penelitian yang
berkaitan dengan variabel-variabel penelitian masih belum tergambar dengan
jelas.[13]
4.
Prinsip-prinsip
perumusan masalah
a.
Prinsip yang
berkaitan dengan teori dari dasar
Peneliti hendaknya
senantiasa bahwa perumusan masalah dalam penelitiannya didasarkan atas upaya
menemukan teori dari dasar sebagai acuan utama. Jadi, perumusan masalah disini
adalah sekedar arahan, pembimbing, atau acuan pada usaha untuk menemukan
masalah yang sebenarnya.
b.
Prinsip yang
berkaitan dengan maksud perumusan masalah
c.
Prinsip
hubungan faktor
Fokus sebagai sumber
masalah penelitian merupakan rumusan yang terdiri atas dua atau lebih faktor
yang menghasilkan tanda tanya atau kebingungan seperti yang telah didefinisikan
dimuka. Faktor-faktor itu dapat berupa konsep, peristiwa, pengalaman, atau
fenomena. Jadi, walaupun ada faktor-faktor, jika tidak dikaitkan satu dengan
yang lainnya secara bermakna, hal itu berarti belum memenuhi persyaratan.
Hubungan harus memenuhi keadaan berupa tanda tanya dan jika tidak demikian,
berarti juga belum memenuhi salah satu syarat sebagai yang dikemukakan.
d.
Fokus sebagai
wahana untuk membatasi studi
e.
Prinsip yang
berkaitan dengan kriteria inklusi-eksklusi
Perumusan fokus yang
baik yang dilakukan sebelum peneliti ke lapangan dan yang mungkin disempurnakan
pada awal ia terjun ke lapangan akan membatasi peneliti guna memilih mana data
yang relevan dan mana pula yang tidak. Data yang relevan dimasukan dan
dianalisis sedangkan yang tidak relevan dengan masalah dikeluarkan.
f.
Prinsip yang
berkaitan dengan bentuk dan cara perumusan masalah
g.
Prinsip
sehubungan dengan posisi perumusan masalah
Yang dimaksud dengan
posisi disini tidak lain adalah kedudukan untuk perumusan masalah diantara
unsur-unsur penelitiannya. Unsur-unsur penelitian lainnya yang erat kaitannya
dengan perumusan masalah ialah latar belakang, tujuan, acuan teori, dan metode
penelitian.
h.
Prinsip yang
berkaitan dengan hasil penelaahan kepustakaan
Pada dasarnya perumusan
masalah itu tidak dapat dipisahkan dari hasil penelaahan kepustakaan yang
berkaitan. Hal tersebut diperlukan untuk lebih mempertajam rumusan masalah itu
sendiri walaupun masalah yang sesungguhnya bersumber dari data itu sendiri.
5.
Langkah-langkah perumusan
masalah
Berikut ini dikemukakan tentang
langkah-langkah perumusan masalah penelitian. Adapun langkah-langkah perumusan
masalah adalah seperti berikut ini.
a.
Tentukan fokus penelitian
b.
Cari berbagai kemungkinan
faktor yang ada kaitan dengan fokus tersebut yang dalam hal ini dinamakan
subfokus
c.
Dari antara faktor-faktor yang
terkait adakan pengkajian mana yang sangat menarik untuk ditelaah, kemudian
tetapkan mana yang dipilih.
d.
Kaitkan secara logis
faktor-faktor subfokus yang dipilih dengan fokus penelitian.[15]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Latar belakang masalah adalah hal yang berkaitan dengan
masalah penelitian yang akan dilakukan, latar belakang ini muncul ketika
seorang peneliti menemukan masalah yang menurutnya perlu untuk ditindaklanjuti,
penelitian itu tidak hanya dalam hal pengetahuan saja, tetapi masalah yang
ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah peneliti menemukan masalahnya
kemudian Dalam penelitian kita perlu mengidentifikasi masalah sesuai dengan
topik penelitian untuk meyakinkan bahwa memang di lapangan ada permasalahan sesuai
dengan topik penelitian. Setelah melakukan identifikasi suatu masalah, kemudian
langkah selanjutnya yaitu memberi batasan-batasan masalah, agar permasalahan
itu tidak meluas. Dan karena peneliti memiliki keterbatasan dari segi waktu,
tenaga, biaya, maupun pengetahuan. Kemudian langkah selanjutnya yaitu perumusan
masalah, dalam perumusan masalah, peneliti akan lebih mudah untuk memulai dalam
penelitiannya, karena perumusan masalah membutuhkan solusi dan jawaban, yang
berupa pertanyaan. Maka dari itu dalam menyelesaikan suatu masalah harus sesuai
dengan langkah-langkah tersebut, yaitu; latar belakang masalah, identifikasi
masalah, pembatasan masalah, dan perumusan masalah.
B. Saran
Dalam melakukan penelitian maka dianjurkan untuk
melakukan langkah-langkah dalam pembuatan proposal yang benar, berawal dari
latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, dan perumusan
masalah. Maka setelah langkah tersebut telah di kerjakan, langkah selanjutnya
akan mudah untuk dilaksanakan. Jadi harus terstruktur dalam menyelesaikan suatu
masalah.
DAFTAR
PUSTAKA
Amirin, Tatang. 2000. Menyusun
Rencana Penelitian. Jakarta: Grafindo Persada.
Arikunto, Suharsimi.
2010. Prosedur Penelitian. Jakarta:
Rineka Cipta.
J. Moleong, Lexy. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mukhtar Maksum. Dkk. 2007. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Cirebon: STAIN Cirebon.
Sanjaya, Wina.
2013.Penelitian Pendidikan: Jenis,
Metode, dan Prosedur. Jakarta: Prenada Media Group.
Syatori Nasehuddin, Toto. 2011. Metodologi Penelitian : Sebuah Pengantar.
Cirebon: IAIN SNJ.
(http://indrigustiantari.blogspot.com/2013/06/bagaimana-menulis-rumusan-masalah-dalam_5.html/25/09/13)
[1] Tatang Amirin.
2000. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta: Grafindo Persada, hal. 53
[2]Suharsimi,
Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta, hal 83.
[5](http://indrigustiantari.blogspot.com/2013/06/bagaimana-menulis-rumusan-masalah-dalam_5.html/25/09/13)
[7]Maksum Mukhtar.
Dkk. 2007. Pedoman Penulisan Karya
Ilmiah. Cirebon: STAIN Cirebon, hal 47.
[10]Wina Sanjaya.
2013.Penelitian Pendidikan: Jenis,
Metode, dan Prosedur. Jakarta: Prenada Media Group, hal. 182.
[12]Toto Syatori Nasehuddin. 2011. Metodologi
Penelitian : Sebuah Pengantar. Cirebon: IAIN SNJ, hal 55-57.
[13] Wina Sanjaya, op.
cit., ha.l 190-192.
[14] J. Moleong,
Lexy. 2007. Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Rosdakarya, hal. 112-118.
Casino Sites
ReplyDeleteHere you will find casino websites that 바카라그림보는법 offer games 윌리엄힐 and services to players from around the world. List of casinos accepting US 스포츠 토토 사이트 players.Casino Bonus Offer: 바카라 No Deposit BonusCashing Bonus: $25 라이브 스코어 free + 100 Free SpinsGame Selection: 5Duel Casino, Ignition, PlayOJO, SugarHouse, SugarHouse, BetMGM